Musim tanam kali ini menjadi tantangan berat bagi para petani di Dusun Kebonan, Desa Yosowilangun Kidul.
Kekeringan yang melanda wilayah tersebut memaksa warga untuk menggunakan pompa air tambahan guna mengairi lahan pertanian mereka.
Kondisi ini berdampak pada meningkatnya pengeluaran biaya produksi, terutama untuk bahan bakar dan perawatan mesin pompa.
Dalam pantauan di lapangan, terlihat sejumlah petani menggunakan mesin pompa berbahan bakar bensin dan selang air besar yang ditarik dari sumber air terdekat.
Alat bantu ini menjadi satu-satunya solusi untuk menjaga tanaman tetap hidup, terutama bagi mereka yang menanam jagung dan tembakau.
"Kalau tidak pakai pompa, tanaman bisa mati kekeringan. Tapi ya biayanya jadi tambah, belum lagi kalau mesinnya rusak," ungkap Pak Karim, salah satu petani setempat.
Beberapa petani bahkan terpaksa menyewa mesin pompa karena tidak memiliki alat sendiri.
Hal ini tentu semakin memberatkan, apalagi harga hasil panen belum tentu sebanding dengan biaya yang telah dikeluarkan.
Pemerintah desa setempat sedang berupaya mencarikan solusi jangka panjang, seperti pengadaan sumur bor atau pembangunan irigasi sederhana.
Namun, hingga saat ini para petani masih bergantung pada inisiatif mandiri dan swadaya.
Kondisi ini menjadi pengingat pentingnya perhatian terhadap sarana irigasi dan pengelolaan air di sektor pertanian, terlebih di tengah perubahan iklim yang makin sulit diprediksi.
KembaliCopyright © 2020 Diskominfo Kab. Lumajang - Dibuat dengan penuh